Kenapa Orang Betah Scroll Berjam-Jam? Ini Faktanya

Bangun tidur langsung membuka TikTok atau Instagram sekarang terasa sangat biasa. Banyak orang bahkan tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling sosial media. Aktivitas yang awalnya dilakukan sebentar sering berubah menjadi kebiasaan panjang tanpa terasa.
Fenomena ini semakin sering dibahas karena screen time masyarakat terus meningkat setiap tahun. Sosial media bukan lagi sekadar tempat komunikasi. Platform digital sekarang menjadi sumber hiburan, informasi, hingga pelarian dari rasa bosan.
Hal menariknya, banyak pengguna sebenarnya sadar bahwa mereka terlalu lama scrolling. Namun, mereka tetap sulit berhenti membuka aplikasi yang sama berulang kali. Di sinilah data perilaku digital mulai menarik untuk dipahami.
Screen Time Masyarakat Naik dari Tahun ke Tahun
Berdasarkan laporan Digital 2026 Global Overview Report dari DataReportal, rata-rata pengguna internet menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengakses sosial media. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi penyumbang terbesar tingginya screen time masyarakat.
Kebiasaan digital masyarakat berubah sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu internet dipakai untuk mencari informasi tertentu, sekarang banyak pengguna justru menghabiskan waktu untuk menikmati konten singkat secara terus-menerus.
Durasi penggunaan sosial media di Indonesia juga termasuk tinggi dibanding beberapa negara lain. Banyak pengguna membuka aplikasi sosial media puluhan kali dalam sehari tanpa sadar.
Sebagai referensi tambahan mengenai statistik penggunaan sosial media global, kamu bisa membaca sumber berikut:
Gen Z Bisa Menghabiskan Lebih dari 9 Jam di Depan Layar
Data screen time global menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok dengan durasi penggunaan layar tertinggi dibanding generasi lain. Beberapa laporan digital 2026 menyebut Gen Z rata-rata menghabiskan lebih dari 9 jam per hari di depan layar digital.
Jika dihitung dalam satu minggu, angka tersebut setara dengan lebih dari 63 jam screen time. Bahkan, waktu tersebut lebih panjang dibanding rata-rata jam kerja formal dalam seminggu.
Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk sosial media, video pendek, streaming, dan komunikasi digital. TikTok, Instagram Reels, serta YouTube Shorts menjadi platform dengan tingkat konsumsi tertinggi karena kontennya cepat dan terus diperbarui.
Yang menarik, peningkatan screen time ini tidak hanya terjadi karena kebutuhan hiburan. Banyak pengguna membuka sosial media secara refleks tanpa tujuan tertentu. Inilah alasan kenapa scrolling sering terasa sangat sulit dihentikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku digital masyarakat modern sekarang semakin dipengaruhi oleh algoritma dan pola konsumsi konten instan.
Algoritma Sosial Media Memang Dirancang agar Pengguna Bertahan Lama
Banyak orang mengira mereka scrolling terlalu lama karena kurang disiplin. Padahal, ada faktor besar lain yang memengaruhi kebiasaan tersebut, yaitu algoritma sosial media.
Algoritma bekerja dengan mempelajari perilaku pengguna. Setiap video yang ditonton, postingan yang disukai, hingga durasi seseorang melihat konten akan direkam menjadi data.
Data tersebut kemudian digunakan platform untuk menampilkan konten yang paling relevan bagi pengguna. Inilah alasan kenapa halaman For You Page di TikTok terasa sangat personal.
Semakin lama pengguna bertahan di aplikasi, semakin besar keuntungan platform digital. Karena itu, sosial media terus mengembangkan sistem yang membuat pengguna nyaman scrolling selama mungkin.
Kamu juga bisa mempelajari perkembangan teknologi digital melalui artikel berikut:
Data Perilaku Pengguna Menjadi “Bahan Bakar” Platform Digital
Setiap aktivitas pengguna meninggalkan jejak data digital. Ketika seseorang berhenti lebih lama di satu video, sistem akan menganggap konten tersebut menarik.
Saat pengguna menonton video sampai selesai, algoritma membaca hal itu sebagai sinyal bahwa konten tersebut relevan. Dari sinilah sosial media membangun pola perilaku pengguna.
Fenomena ini sebenarnya berkaitan erat dengan statistik dan analisis data. Platform digital menggunakan jutaan data pengguna untuk mencari pola tertentu yang dapat meningkatkan engagement.
Dalam dunia penelitian, pola seperti ini juga sering dianalisis menggunakan statistik kuantitatif. Peneliti biasanya memakai data screen time, survei pengguna, dan perilaku digital masyarakat untuk menemukan hubungan tertentu.
Kalau kamu sedang belajar olah data penelitian, kamu bisa mempelajari layanan berikut:
👉https://educativa.id/jasa-olah-data/
👉https://educativa.id/about/jasa-konsultasi-penelitian/
Kenapa Scroll Sosial Media Sulit Dihentikan?
Banyak pengguna sebenarnya sudah berniat berhenti scrolling. Namun, beberapa menit kemudian mereka kembali membuka aplikasi yang sama.
Fenomena ini berkaitan dengan sistem dopamin dalam otak. Konten sosial media dirancang agar pengguna terus mendapatkan stimulus baru secara cepat.
Video pendek, berita viral, hingga konten yang memancing emosi membuat pengguna selalu ingin melihat konten berikutnya. Karena kontennya terus berganti, pengguna menjadi sulit berhenti scrolling.
Secara psikologis, sosial media juga sering menjadi tempat pelarian dari rasa bosan atau stres. Inilah alasan kenapa banyak orang scrolling tanpa tujuan tertentu.
Fenomena seperti ini sekarang sering disebut sebagai doomscrolling. Pengguna terus mengonsumsi konten secara berlebihan meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.
Doomscrolling Bisa Menghabiskan Puluhan Hari dalam Setahun
Banyak orang menganggap scrolling sosial media hanya menghabiskan beberapa menit. Namun, data menunjukkan durasi tersebut sebenarnya jauh lebih besar jika dikumpulkan dalam jangka panjang.
Beberapa riset screen time memperlihatkan bahwa rata-rata pengguna sosial media dapat menghabiskan sekitar 2,5 hingga 3 jam per hari hanya untuk scrolling konten digital.
Jika dihitung selama satu tahun, durasi tersebut setara dengan lebih dari 1.000 jam atau sekitar 45 hari penuh hanya untuk scrolling sosial media. Bahkan, sebagian pengguna mengaku screen time mereka bisa mencapai 5 hingga 7 jam per hari tanpa disadari.
Fenomena ini menjadi menarik dalam perspektif statistik karena menunjukkan bagaimana kebiasaan kecil yang dilakukan berulang ternyata menghasilkan angka yang sangat besar.
Di sisi lain, tingginya durasi doomscrolling juga mulai dikaitkan dengan gangguan fokus, kualitas tidur yang menurun, hingga meningkatnya rasa cemas akibat konsumsi informasi berlebihan.
Dampak Screen Time Berlebihan terhadap Fokus dan Produktivitas
Screen time yang terlalu tinggi tidak selalu buruk. Namun, penggunaan sosial media secara berlebihan dapat memengaruhi fokus dan produktivitas seseorang.
Banyak pengguna merasa lebih sulit berkonsentrasi saat belajar atau bekerja karena selalu sering membuka sosial media. Tidak sedikit juga yang mengalami gangguan tidur akibat scrolling hingga larut malam.
Selain itu, konsumsi konten yang terlalu cepat membuat otak terbiasa menerima hiburan instan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan fokus panjang terasa lebih melelahkan.
Dalam beberapa penelitian, screen time berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya rasa cemas dan menurunnya konsentrasi. Karena itu, penting untuk mulai menyadari pola penggunaan sosial media sehari-hari.
Statistik Membantu Kita Memahami Perilaku Digital
Fenomena scrolling sosial mesia menunjukkan bahwa statistik tidak hanya dipakai dalam dunia ekonomi atau akademik. Data juga digunakan untuk memahami perilaku manusia sehari-hari.
Dari screen time, pola interaksi pengguna, hingga durasi menonton video, semuanya dapat dianalisis menggunakan statistik. Inilah alasan kenapa kemampuan membaca data menjadi semakin penting di era digital.
Mahasiswa, peneliti, hingga content creator sekarang mulai memanfaatkan data untuk memahami perilaku audien mereka. Data membantu seseorang melihat pola, kebiasaan, dan kecenderungan masyarakat digital.
Kalau kamu sedang mengerjakan skripsi atau penelitian tentang sosial media dan perilaku digital, kamu bisa menggunakan layanan berikut”
👉https://educativa.id/bimbingan-skripsi-tesis-disertasi/
👉https://educativa.id/layanan-kami/
👉https://educativa.id/edupublisher/
Kesimpulan
Kebiasaan scrolling sosial media selama berjam-jam ternyata bukan sekadar soal malas atau kurang disiplin. Ada algoritma, data perilaku pengguna, dan sistem digital yang memang dirancang agar pengguna bertahan lebih lama di aplikasi.
Melalui statistik dan analisis data, kita bisa memahami kenapa screen time masyarakat terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa data memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan manusia modern.
Kemampuan membaca dan mengolah data sekarang menjadi skill yang semakin penting. Tidak hanya untuk penelitian akademik, tetapi juga untuk memahami bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi CTA
👉Sedang mengerjakan skripsi atau penelitian tentang sosial media, perilaku digital, dan analisis statistik tetapi masih bingung mengolah data SPSS, SmartPLS, atau interpretasi hasil penelitian? Konsultasikan penelitianmu bersama tim Educativa melalui https://educativa.id/website agar proses olah data lebih mudah, terarah, dan valid!
Referensi
https://datareportal.com/reports/digital-2026-global-overview-report
https://wearesocial.com/id/blog/2026/01/digital-2026
https://www.cnbcindonesia.com/tech
https://backtofrontshow.com/screen-time-statistics/?
https://www.screenbuddyapp.com/blog/screen-time-statistics-2026?
Referensi Gambar
https://radarutara.disway.id/tekno/read/645763/no-1-di-dunia-orang-indonesia-kecanduan-scrolling-hp
https://www.thenationalnews.com/future/technology/2025/01/17/tiktok-brain-what-attention-span









Leave a Comment